Pusat Data Nasional Sementara (PDNS) Lumpuh Akibat Ransomware, Bagaimana Cara Mengantisipasinya?

5 min read

Pusat Data Nasional Sementara (PDNS) Lumpuh Akibat Ransomware, Bagaimana Cara Mengantisipasinya?

ransomware

Kebocoran data yang marak belakangan ini menjadi indikasi bahwa keamanan cyber di Indonesia masih perlu ditingkatkan. Pada bulan Juni 2024, Pusat Data Nasional Sementara (PDNS) Indonesia mengalami serangan cyber yang signifikan dalam bentuk ransomware. Serangan ini mengakibatkan gangguan pada beberapa layanan publik penting. Terhitung sebanyak 282 layanan instansi pemerintah mengalami gangguan dalam operasionalnya.

Menurut Hinsa Siburian, Kepala Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN), server PDN mengalami serangan ransomware yang mengakibatkan data vital terkunci dan tidak bisa diakses. Akibat dari serangan ini, pembobol meminta tebusan sebesar 8 juta dolar (setara Rp131 miliar) untuk membuka kembali akses ke data yang telah dikunci. Ketidakmampuan sistem pertahanan yang memadai untuk melawan serangan cyber menyebabkan kerugian besar bagi negara mengingat pentingnya data yang disimpan di PDNS.

Kasus ini menunjukkan pentingnya langkah-langkah preventif yang komprehensif dalam menjaga keamanan informasi. Pendekatan 3T—Tata Kelola, Tata Laksana, dan Teknologi—dapat menjadi strategi yang efektif untuk mengantisipasi kebocoran data.

Tata kelola yang baik menjadi fondasi utama dalam pengelolaan keamanan data. Kebijakan yang jelas, pembaruan kebijakan secara berkala, dan aturan pengelolaan akses yang tepat sangat penting. Pengelolaan akses dapat menggunakan sistem seperti Caraka yang mengimplementasikan manajemen hak akses berbasis tingkatan atau "Ring". Setiap Ring memiliki tingkat hak akses yang berbeda dan disesuaikan dengan kebutuhan korporasi. Dengan fitur Caraka Delegation, perusahaan dapat mengelola hak akses secara efektif, menjaga keamanan informasi, dan memastikan bahwa setiap individu hanya memiliki otorisasi yang sesuai dengan perannya.

Setelah tata kelola yang baik, tata laksana yang efisien adalah kunci keberhasilan implementasi kebijakan keamanan. Pelaksanaan SOP, kepatuhan terhadap aturan, conduct yang baik, monitoring yang ketat dan sistem peringatan dini (alert) sangat penting dalam tata laksana. Caraka dapat melakukan pengawasan yang mendalam, memberikan laporan akses, dan menyediakan notifikasi real-time jika terjadi upaya akses yang mencurigakan. Misalnya, jika ada upaya menggunakan OTP (One-Time Password), Caraka dapat mengirim notifikasi langsung kepada pihak yang berwenang sehingga setiap pelanggaran atau potensi ancaman dapat segera diidentifikasi dan ditangani.

Penggunaan teknologi yang mumpuni juga tidak kalah penting. Sistem firewall, IDS (Intrusion Detection System), inspeksi kode, dan implementasi enkripsi merupakan langkah-langkah kritis dalam melindungi data dari ancaman cyber. Teknologi keamanan harus terus diperbarui dan ditingkatkan untuk memberikan perlindungan yang lebih baik dan tetap efektif dalam menghadapi serangan yang semakin canggih.

Implementasi teknologi berbasis two-factor authentication (2FA) seperti Caraka dapat meningkatkan keamanan akses secara signifikan. Dengan 2FA, maka tingkat kesulitan untuk terjadinya pembobolan menjadi lebih tinggi. Ini menambah lapisan keamanan tambahan yang sangat efektif dalam menjaga integritas sistem.

Kebocoran data yang marak dan serangan cyber yang terjadi pada PDNS merupakan peringatan keras bahwa sistem keamanan cyber di Indonesia masih jauh dari ideal. Dengan mengadopsi pendekatan 3T—Tata Kelola, Tata Laksana, dan Teknologi—serta mengimplementasikan teknologi seperti 2FA, diharapkan kejadian serupa dapat diantisipasi. Hal ini tidak hanya melindungi data vital negara dari ancaman cyber, tetapi juga memastikan kelancaran operasional berbagai layanan publik yang sangat penting bagi masyarakat.