Open Source yang Abandon dan Abundance
Open Source yang Abandon dan Abundance

Dua kata kunci yang menggambarkan Open Source dalam konteks bisnis adalah abandoned (ditinggalkan) dan abundance (melimpah). Sekilas tampak kontradiktif, namun justru istilah inilah yang menggambarkan kekuatan sekaligus tantangan mengadopsi Open Source bagi dunia bisnis. Memahami paradoks ini menjadi kunci sukses mengadopsi Open Source untuk bisnis.
Open Source sebagai Abandoned Things
Bayangkan suatu hari Anda mendapatkan helikopter di depan rumah entah dari siapa. Anda memiliki potensi untuk bepergian cepat dan bebas macet. Sangat menguntungkan, bukan? Namun, keuntungan itu datang membawa tanggung jawab baru. Anda tetap harus mengeluarkan biaya untuk jasa pilot, beli bahan bakar, perawatan mesin, bahkan jasa teknisi, semuanya itu tentu saja membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Tentu saja, masih jauh lebih baik daripada kita harus membeli helikopter itu sendiri dan tetap mengeluarkan biaya-biaya tersebut..
Begitu pula dengan Open Source*. Source code*-nya tersedia secara bebas untuk diunduh, dipelajari, dan digunakan. Setelah dikembangkan, proyek ini kemudian “ditinggalkan” oleh pembuatnya. Tidak ada jaminan bahwa akan ada pihak yang terus merawat atau memperbaruinya. Tidak ada juga jaminan garansi dan dukungan layanan apabila kita sebagai pengguna mengalami kesulitan dalam menggunakannya, tentu saja ada yang akan membantu dengan biaya tertentu. Sejalan dengan analogi diatas, helikopternya (mungkin) gratis, namun Total Cost of Ownership (TCO) tetap ada biaya yang dikeluarkan pada akhirnya. Hanya, seberapa besar?
Terdapat beberapa model bisnis yang dikembangkan dari Open Source: ada yang hanya memberikan layanan bilamana dibutuhkan saja, ada yang memberikan layanan berupa paket/lump sum dengan SLA tertentu, ada juga yang mengadopsinya, seakan Open Source tersebut adalah anak yatim piatu. Semua itu tentu saja ada pertimbangan cost-benefitnya masing-masing. Misalnya, on call service, secara umum tidak memiliki tanggung jawab yang menyeluruh sesuai juga dengan biaya yang cenderung lebih rendah.
Sebaliknya, Open Source yang mendapatkan foster parent atau pengasuh, memiliki delivery layanan yang mumpuni/menyeluruh sampai dengan tanggung jawab selayaknya principal, untuk melakukan bug-fixing, patching dan delivery di level principal lainnya. Software Open Source yang di-rebrand, atau direlisensi masuk dalam kategori ini. Tentu saja, model seperti ini yang dibutuhkan oleh kalangan korporasi besar, terutama di negara berkembang seperti Indonesia. Umumnya negara berkembang, belum memiliki SDM yang siap untuk mendukung adopsi teknologi berbasiskan Open Source karena mempelajari Open Source membutuhkan kemandirian dalam pembelajaran dan riset yang cukup dalam dan melibatkan banyak stack teknologi dan keterbatasannya.
Dukungan layanan penuh, dari dukungan prinsipal sampai dengan Managed Support sangat krusial. Dengan adanya dukungan komprehensif nan mumpuni, mulai dari Level Principal sampai dengan paling bawah, pengguna solusi berbasiskan Open Source dapat tidur dengan nyenyak karena tidak hanya mendapatkan garansi, lebih jauh lagi mendapatkan tim yang siap mendukung operasional sistem agar tidak ada downtime yang dapat mengganggu jalannya bisnis.
Abundance of Open Source
Open Source juga mencerminkan abundance, yakni kelimpahan yang tidak ada habisnya. Karena berlisensi publik, software ini dimiliki bersama oleh semua orang di dunia, baik yang sekarang masih hidup maupun anak cucu kita yang akan datang. Ibarat udara atau lautan, semua manusia adalah pemilik software Open Source, sehingga dapat disebut *priceless—*tidak ternilai, bisa karena memang dapat digunakan tanpa harus membayar atau malah sebaliknya, nilainya begitu besar sehingga tidak dapat digambarkan harganya.
Lisensi publik, seperti GPL atau BSD memastikan software Open Source dapat terus beredar, dimodifikasi, dan dikembangkan secara global. Inilah yang membuatnya melimpah ruah, tersedia dalam berbagai bentuk, varian, dan solusi. Dari sistem operasi seperti Linux, database seperti PostgreSQL, hingga alat bantu AI, banyak software Open Source yang lahir dari semangat kolaborasi tanpa batas.
Pada akhirnya, Open Source adalah peluang besar, tapi bukan tanpa tanggung jawab. Seperti helikopter gratis di depan rumah, manfaatnya besar, namun hanya akan benar-benar berguna jika kita menyewa pilot, teknisi, dan mengelola dukungan operasionalnya dengan baik.