Mengenal Model Bisnis Open-Core: Keterbukaan dan Komersialisasi dalam Software

4 min read

Mengenal Model Bisnis Open-Core: Keterbukaan dan Komersialisasi dalam Software

bisnis open core

Model bisnis Open-Core makin populer di kalangan perusahaan perangkat lunak sebagai cara untuk memonetisasi produk mereka. Dalam model ini, "core" atau inti perangkat lunak ditawarkan secara gratis dan Open Source, sementara fitur tambahan atau "add-ons" yang lebih canggih tersedia dengan biaya berlangganan atau lisensi komersial. Istilah "Open-Core" pertama kali diperkenalkan oleh Andrew Lampitt pada tahun 2008, dan sejak saat itu, model ini telah digunakan oleh banyak perusahaan untuk menggabungkan keterbukaan Open Source dengan keuntungan komersial.

Apa Perbedaan Open Source dan Open-Core?

Secara garis besar, Open Source terbagi menjadi dua jenis utama: "pure" dan "non-pure". Pure Open Source mengacu pada perangkat lunak yang dikembangkan dan dikontribusikan oleh komunitas global, tanpa ada institusi tunggal yang mengendalikan pengembangannya. Kepemilikannya bersifat publik dengan lisensi tunggal dan kode sumbernya dilisensikan sebagai copyleft.

Kemudian untuk kategori "non-pure" Open Source terbagi menjadi dua subbagian: Company Endorsed dan Marketing Gimmick. Company Endorsed pengembangannya dikendalikan oleh institusi tunggal—bisa berupa perusahaan atau kelompok swasta. Sedangkan Marketing Gimmick menggunakan dua lisensi (Copyleft dan Copyright) dengan kualitas non-produksi untuk versi Open Source mereka.

Bagaimana Open-Core Bekerja?

Non-pure Open Source inilah yang juga dikenal dengan istilah Open-Core. Pada dasarnya, Open-Core membagi perangkat lunak menjadi dua bagian: versi dasar yang dapat diakses secara gratis dan mengikuti sebagian kaidah Open Source, atau setidaknya mengklaim sebagai Open Source dan merilisnya dengan lisensi yang sudah terdaftar pada Open Source Initiative.

Analogi sederhana untuk menggambarkan model Open-Core adalah seperti rumah makan atau warung makan yang menggratiskan nasi putih kepada pelanggannya. Namun, jika pelanggan ingin menambah lauk, seperti ayam, tempe, atau sayuran, maka mereka perlu membayar ekstra. Dengan cara ini, semua orang bisa menikmati nasi putih secara gratis, tetapi untuk mendapatkan lauk yang lebih lengkap, mereka harus merogoh kocek.

Perusahaan yang mengadopsi model Open-Core ialah seperti Odoo, sebuah platform ERP yang menyediakan versi Open Source dengan fitur dasar, namun fitur tambahan atau modul tertentu seperti akuntansi, CRM, dan manajemen proyek tersedia dengan biaya tambahan.

Model Open-Core menawarkan keseimbangan antara keterbukaan dan komersialisasi, memungkinkan perusahaan memanfaatkan kekuatan komunitas Open Source sambil menjaga aliran pendapatan dari fitur berbayar. Namun, seperti model bisnis lainnya, Open-Core memiliki tantangan dan kontroversi tersendiri. Perusahaan yang mempertimbangkan model ini harus memahami keuntungan dan risikonya. Perhatikan kemudahan bermigrasi ke solusi lain jika diperlukan, karena ada potensi vendor lock-in dalam model Open-Core—fitur tambahan dan dukungan biasanya hanya tersedia melalui penyedia komersial tertentu.

Jadi, bagaimana menurut Anda? Tertarik dengan Open Source atau Open-Core?