Equnix Business Solutions | an Open Source and Open Mind Company
Webinar Series| Equnix Business Solutions

Bagaimana Sebaiknya Seorang Profesional IT Menyikapi Tren dan Hype?

Di tengah derasnya arus inovasi teknologi, para profesional IT dihadapkan pada dilema antara terus mengikuti setiap tren baru atau justru fokus pada hal yang lebih fundamental. Hal ini menjadi sorotan utama dalam Equnix Weekly Tech Talk (EWTT) Episode #6 yang menghadirkan diskusi menarik tentang bagaimana menyikapi hype dan tren teknologi dengan lebih bijak dan strategis.

Memahami Fenomena: Tren atau Hanya Type?

Tren dan Hype sekilas tampak serupa, namun keduanya memiliki perbedaan mendasar. Tren mencerminkan arah perkembangan yang berkelanjutan dan memberi pengaruh nyata terhadap industri, bisnis, maupun pengguna. Sebaliknya, hype lahir dari antusiasme sesaat yang ramai dibicarakan, tetapi belum tentu memiliki nilai atau manfaat jangka panjang. Perbedaan keduanya penting untuk dipahami oleh para profesional IT agar tidak salah langkah terbawa ke arus dalam sensasi sesaat.

Sikap Profesional IT Menghadapi Tren dan Hype

Para profesional IT, baik yang berkecimpung dalam perencanaan, pembangunan, dan penggunaan solusi IT untuk kebutuhan enterprise, tentu harus bijak dalam menyikapi perubahan yang diwarnai oleh fenomena hype atau trend. Setiap teknologi baru membawa risiko yang bisa mengganggu proses bisnis atau, dalam skenario terburuk, mengancam keberlangsungan operasional. Oleh karena itu dasar pengambilan keputusan harus didasari atas perbandingan risiko vs manfaat, dan nilai potensi peluang bisnis jangka menengah-panjang.

Untuk fenomena yang cenderung bersifat hype, pendekatan “wait and see” dengan disertai kajian mendalam menjadi langkah yang paling bijak sebelum memutuskan untuk mengadopsinya secara penuh. Dengan demikian, Anda dapat memastikan setiap inovasi yang diambil benar-benar memberikan nilai strategis, bukan sekadar mengikuti arus tren.

Saat mempertimbangkan adopsi di level enterprise, bersikap selektif adalah kunci. Gunakan waktu untuk menggali aspek teknis sampai beberapa lapisan bawahnya, hitung total cost of ownership, dan lakukan analisis risiko-manfaat yang komprehensif serta mintalah pendapat ahli yang benar-benar paham bidangnya. Dengan begitu kita bisa memastikan teknologi yang diambil memang relevan, membawa efisiensi atau peluang bisnis nyata, dan diimplementasikan pada waktu yang tepat sehingga manfaatnya optimal dan risikonya terkelola.

Sebagai penutup, EWTT Episode #6 menegaskan bahwa profesional IT perlu terus memperkaya wawasan dan bersikap kritis terhadap setiap fenomena teknologi. Tidak semua yang viral perlu diikuti, dan tidak semua yang baru berarti relevan. Kuncinya adalah memahami dasar dari setiap perkembangan, menganalisis manfaat serta keterbatasannya, dan memastikan setiap langkah yang diambil tetap berorientasi pada keberlanjutan serta kebutuhan nyata bisnis.ola.

ewtt_2024_ep06_01 ewtt_2024_ep06_02 ewtt_2024_ep06_03 ewtt_2024_ep06_04 ewtt_2024_ep06_05 ewtt_2024_ep06_06 ewtt_2024_ep06_07 ewtt_2024_ep06_08

Rangkuman QnA EWTT Eps #6

Dampak negatif yang terjadi adalah kemungkinan investasi pada teknologi yang kurang tepat sehingga di kemudian hari mungkin perlu diganti sehingga yang terjadi adalah pemborosan.
Beberapa hype itu sebenarnya naik-turun membentuk tren.
Beberapa hype itu sebenarnya naik-turun membentuk tren.
Hal ini dipengaruhi oleh banyak faktor, seperti tipe produk, user, market, dan lainnya.
Hal ini dapat dilakukan dengan brainstorm terkait potensi manfaat dan risiko terkait hype tersebut.
Profesional IT harus bersikap skeptis terkait hype tersebut, lalu pelajari lebih lanjut dari ahli yang menguasai bidangnya, dan juga dapat bantu memberikan edukasi ke masyarakat dengan bahasa yang awam.
Profesional IT dapat lebih banyak belajar, menambah wawasan, dan mempelajari dasar keilmuan agar dapat memahami lebih lanjut terkait tren yang sedang muncul dan kebermanfaatannya dan kesesuaiannya dengan pekerjaan saat ini.
Untuk tren, 5 tahun memang cukup lama.
Setahu saya, untuk IT belum ada cycle yang mengarah kembali ke tahap awal, melainkan trennya akan terus berkembang.
Terkait technical debt, hal itu merupakan masalah dengan yang bersangkutan.
Rata-rata vendor teknologi berasal dari luar negeri, sedangkan vendor teknologi di Indonesia rata-rata hanya sebagai reseller.
Jika dilihat dari sisi developer application, memang harus mengikuti perkembangan.
Yang saya lihat akan bermanfaat di masa depan adalah Open Source bukan internet.
Jadi pada saat itu kita mengenalnya sebagai Linux bukan Open Source, selain itu Linux dibuat menjadi gratis dan yang saya katakan will be big itu Linux.
Seorang futurist in general itu sebenarnya bukan cenayang, tapi dia seseorang yang menguasai dan memahami banyak faktor.