Equnix Business Solutions | an Open Source and Open Mind Company
Webinar Series| Equnix Business Solutions

Lindungi Data Bisnis Anda dari Potensi Serangan Ransomware

Equnix Weekly Tech Talk (EWTT) 2025 episode #1 sukses digelar pada Rabu, 20 Agustus 2025 dengan mengusung topik krusial “Lindungi Data Bisnis Anda dari Potensi Serangan Ransomware”. Acara ini menarik perhatian 67 peserta dari berbagai sektor yang meliputi BUMN, Finansial, IT, dan pendidikan.

Episode perdana ini membahas dasar-dasar ransomware, mulai dari cara kerja hingga latar belakang kemunculannya, serta menyoroti mengapa RDBMS (Relational Database Management System) menjadi target utama. Diskusi yang diselenggarakan secara hybrid (offline dan online melalui Zoom dan YouTube) berjalan interaktif ditandai dengan total 17 pertanyaan diajukan oleh peserta. Pertanyaan-pertanyaan tersebut seputar tren serangan ransomware, best practice dalam perlindungan data, dan strategi pemulihan paling efektif pascaserangan.

Sebagai solusi melindungi database dari ransomware, Equnix memperkenalkan pendekatan 3T (Teknologi, Tata Kelola, dan Tata Laksana). Ketiga elemen tersebut harus berjalan beriringan dan saling melengkapi agar tercipta fondasi keamanan data yang kuat dan dapat meminimalisasi potensi serangan ransomware.

Untuk informasi lebih lanjut, silakan saksikan rekaman lengkapnya di YouTube Channel Equnix Business Solutions.

ewtt_2024_ep04_01 ewtt_2024_ep04_02 ewtt_2024_ep04_03 ewtt_2024_ep04_04 ewtt_2024_ep04_05 ewtt_2024_ep04_06 ewtt_2024_ep04_07

Rangkuman QnA EWTT Eps #1

Jika backup tidak memiliki mitigasi ransomware, umumnya akan terdampak kecuali menggunakan backup offline atau berbasis waktu. Ransomware mengenkripsi data dengan algoritma standar yang hanya bisa dibuka dengan kunci. Enkripsi umum seperti AES belum bisa ditembus bahkan oleh komputer kuantum, sehingga tanpa kunci data hampir mustahil dipulihkan. Tanpa akses kunci enkripsi, pemulihan data sangat sulit. Jika ransomware hanya mengenkripsi sebagian file, data masih bisa diselamatkan, namun bila terenkripsi penuh hampir mustahil dipulihkan. Oleh karena itu juga, diperlukan mekanisme backup yang tidak hanya bertumpu pada 1 tempat saja.
Mitigasi ransomware dapat dilakukan dengan penerapan 2FA untuk akses serta enkripsi data menggunakan Equnix Seamless Encryption (ESE) yang memanfaatkan key fault HSM atau Ksema. ESE berperan dalam pengamanan sisi database, sementara Caraka mengamankan sisi akses melalui 2FA. Selain itu, penggunaan session id pada ESE membantu mencegah serangan ke database dari aplikasi yang ter-bridge. Equnix memiliki beberapa teknologi yang dapat diterapkan end-user untuk meningkatkan perlindungan terhadap ransomware. Tidak menutup kemungkinan, langkah lebih lanjut seperti audit keamanan hingga cold review perlu diterapkan agar keamanan proses bisnis maupun aplikasi tetap terjaga. Oleh karena itu, implementasi menyeluruh mulai dari firewall hingga security audit menjadi sangat penting sebagai mitigasi ransomware.
Pengamanan sistem cukup kompleks karena terdiri dari banyak lapisan (multi-layered). Bukan hanya mengandalkan satu teknologi, seperti enkripsi, tetapi juga mencakup tata kelola dan tata laksana. Semua aspek tersebut harus berjalan sebagai satu kesatuan untuk memastikan sistem benar-benar aman sehingga tidak bergantung pada satu lapisan saja.
AI tidak dapat memberikan jaminan 100%, sehingga tetap diperlukan pengawasan dan audit yang ketat. Teknologi AI dapat mendeteksi anomali query, query yang malformed, atau paket data yang tidak normal, dan memberikan informasi atau peringatan dini. Namun, langkah tindak lanjut serta mitigasi tetap harus dijalankan melalui proses dan SOP yang diterapkan dengan baik agar sistem benar-benar efektif.
Sebaiknya menerapkan strategi multi-tier back up, mulai dari cold, warm, hot, hingga High Available back up sehingga pemulihan menjadi lebih komprehensif. Diperlukan juga untuk menentukan Recovery Time Objective (RTO), yaitu durasi untuk melakukan restore, serta Recovery Point Objective (RPO), yaitu hingga di titik mana transaksi masih dapat ditoleransi hilang. Selain itu, penerapan back up di lokal saja tidak cukup, melainkan juga dibutuhkan upaya replikasi.
Data bisnis yang paling krusial adalah data yang terdapat di RDBMS karena bersifat transaction dan mengandung financial information. Selain itu, data sensitif lainnya juga perlu dilindungi dari ransomware, seperti informasi pribadi (NIK, nomor kartu kredit, nama ibu kandung), data pada suatu file, data media sosial, dan lainnya.
Harus menerapkan konfigurasi topologi jaringan yang baik. Jangan semua server diakses melalui satu segmen. Di database selalu ada white list, ga semua orang bisa masuk, ga semua koneksi dapat diterima. Semua harus didaftarkan satu per satu berdasarkan otorisasinya. Ini kewenangan dari segi tata laksana.
Prinsip zero trust dapat memperkuat keamanan sistem karena kita tidak memberikan akses superuser kepada semua entitas yang terlibat dalam sistem. Salah satu contoh penerapannya adalah dengan implementasi jump host.
Secara umum, caranya sama dengan strategi mengamankan database. Namun, tentunya ada beberapa penyesuaian cara mitigasi karena setiap teknologi memiliki behaviour masing-masing dan tata cara tersendiri untuk menghindari kebocoran data atau pembobolan sistem.
Perbedaannya adalah pada legitimate encryption, kita dapat mengetahui siapa yang melakukannya dan kapan key encryption digunakan. Sedangkan malicious encryption tidak diketahui pihak yang melakukannya sehingga data tiba-tiba sudah terenkripsi dan tidak diketahui key yang mana yang digunakan untuk melakukan enkripsi dan dekripsi. Oleh karena itu, untuk dapat membedakannya, kita harus memiliki kontrol terhadap sistem kita.
Penggunaan anti virus/anti malware dalam suatu sistem merupakan handicap. Anti virus bekerja dengan cara melakukan scanning secara berkala atau saat akses file sehingga akan menggunakan resource yang cukup tinggi yang akhirnya mengganggu performa database dan menurunkan kemampuan operasional sistem. Sebenarnya penggunaan antivirus itu tidak harus. Selama sudah melakukan pencegahan dengan implementasi 2FA, enkripsi, dan audit log, maka sistem dapat membatasi masuknya serangan ransomware karena akses sudah dibatasi dan data critical juga sudah di-lock. Hal yang perlu diperhatikan juga adalah dari segi aplikasi melalui pencegahan di logic aplikasi, server aplikasi, dan lainnya.
Hal yang perlu diperhatikan adalah back up tidak dapat dilakukan hanya dalam satu tempat. Hasil back up juga harus divalidasi secara rutin. Backup is not a backup if it cannot be restored.
Ransomware itu pada dasarnya menyerang secara sistem, jadi bukan terhadap salah satu account particular.
Dalam 11DB/Postgres, dapat menerapkan Multi-Tiered Backup (MTB), dimana terdiri dari full backup dan juga incremental backup. Incremental backup ini berjalan secara terus menerus dan juga menyimpan transaksi setiap saat, sehingga bilamana dibutuhkan untuk melaksanakan recovery pada waktu tertentu, maka dapat dilaksanakan dengan mekanisme Point-in-Time Recovery. Secara umumnya, akan berbicara mengenai RTO dan RPO, dan dengan mekanisme seperti ini, maka dapat dicapai RTO dan RPO yang optimal.