Pada Rabu, 3 September 2025, Equnix sukses menyelenggarakan episode kedua Equnix Weekly Tech Talk dengan topik “Ultimate Access Control to Avoid the Risk of Ransomware”. Webinar ini dihadiri oleh 60 peserta dari total 61 pendaftar atau mencapai persentase kehadiran 98.36%. Dari jumlah tersebut, 16 peserta turut meramaikan acara secara offline di kantor Equnix. Antusiasme terlihat sepanjang sesi, terbukti dari 31 pertanyaan yang diajukan selama diskusi.
Webinar ini dibuka dengan pembahasan mengenai ancaman ransomware dan cara kerjanya, mulai dari mengunci perangkat (locking device), mengenkripsi data di sistem yang berujung pada mengancam dengan meminta tebusan. Lonjakan kasus ransomware ini tak lepas dari faktor minimnya implementasi IT yang aman, kemudahan bertransaksi secara anonim dengan bitcoin, serta maraknya Ransomware-as-a-Service di jaringan bawah tanah.
Sebagai solusi atas ancaman ini, Equnix memperkenalkan Caraka, sebuah all-in-one security suite yang dirancang khusus untuk mengamankan akses pada sistem operasi Linux. Caraka hadir untuk meningkatkan keamanan dengan mencegah unauthorized access melalui fitur-fitur unggulan seperti SyncOTP, Subordinate Delegation, dan Notification & Approval. Dalam sesi ini, peserta juga disuguhkan demo langsung mengenai penggunaan fitur-fitur tersebut.
SyncOTP merupakan fitur 2FA untuk meningkatkan keamanan autentikasi yang divalidasi secara offline. Caraka juga dilengkapi dengan Subordinate Delegation yang memudahkan manajemen perangkat secara hierarkis sesuai kebutuhan, mulai dari level master hingga pengguna dengan privilege terendah. Tidak hanya itu, setiap permintaan akses juga didukung oleh proses Notification dan Approval, memastikan semua eksekusi terkontrol dengan persetujuan pihak berwenang. Dengan kombinasi fitur ini, Caraka menciptakan keamanan berlapis yang efektif dalam meminimalisasi risiko serangan ransomware.
Untuk informasi lebih lanjut, silakan saksikan rekaman lengkapnya di YouTube Channel Equnix Business Solutions.
CARAKA adalah sistem autentikasi yang mumpuni, mampu melakukan autentikasi meskipun sumber daya yang diautentikasi berada dalam kondisi offline. Hal ini sangat dibutuhkan untuk sistem-sistem produksi yang sangat bermisi kritis, di mana biasanya Database dibuat tidak dapat diakses oleh manapun kecuali dari Aplikasi (karena memang yang membutuhkan data adalah aplikasi). Dengan adanya CARAKA, kita tetap dapat menjamin sistem autentikasi yang terjaga, termonitor, dan tervalidasi (dengan adanya fitur approval). CARAKA tidak dirancang untuk mendeteksi Ransomware secara langsung sehingga pertanyaan di atas tidak terlalu relevan dengan topik dan penjelasan terkait CARAKA.
Sebagai catatan: Akses Control itu selalu bersifat reaktif, sistem pengamanan yang bersifat proaktif dapat diharapkan pada antivirus, namun semua sistem pertahanan keamanan secara umum dirancang untuk bersifat reaktif karena proaktifitas dari sistem keamanan pada sistem produksi dalam berpotensi membuat sistem menjadi lambat sehingga kontraproduktif dengan tujuan dibangunnya sistem pelayanan tersebut.
Kami sudah pernah menyampaikannya di tahun 2021 dan 2022 di webinar-webinar yang kami selenggarakan jauh sebelum adanya studi kasus tersebut. Kami menyampaikan bahwa ketika terjadi breach terhadap sistem, mayoritas dilakukan oleh internal atau human error. Hal seperti ini biasa disebut dengan fraud atau penyalahgunaan akses dan privileged yang sudah menjadi hal umum di mana-mana.
CARAKA diciptakan untuk mengantisipasi hal tersebut, sebuah akses kontrol yang ultimate. Jadi ketika seseorang mempunyai akses kontrol, bisa diatur agar atasan dapat mengetahui jika orang tersebut menggunakan akses tersebut dan tidak sembarangan dalam melakukan sudo. Ketika ada kebutuhan untuk privilege escalation maka dengan adanya CARAKA maka atasan/klien akan tahu siapa yang mengakses dan kapan akses itu terjadi. Jadi sasaran utamanya adalah sisi operasional yang sudah diatur dalam tata laksana. Pendekatan perilaku dapat digunakan ketika disain pengaturan hak akses dirancang, bukan secara otomatis. Caraka memastikan otentikasi disisi mobile application menggunakan biometric untuk membuka akses kedalam aplikasi CARAKA setiap saat, untuk memastikan pengguna Aplikasi adalah mereka yang berwenang. CARAKA sangat menarik untuk membagi akses privilege antara End-User, Administrator, Managed Support, Vendor, dan lainnya.
Teknologi paling ultimate yang dapat kami sarankan untuk kalangan bisnis adalah menggunakan database yang mendukung enkripsi secara mumpuni, seperti 11DB/Postgres dengan kemampuan enkripsi sangat cepat karena menggunakan metode column-based encryption serta dilengkapi dengan index yang telah dipatenkan. Sehingga 11DB/Postgres ini cepat, aman, dan terpercaya.
Jika membicarakan teknologi from bottom to top untuk menghindari ransomware, maka kita dapat menggunakan OS Linux, database 11DB/Postgres dengan fitur enkripsi, CARAKA untuk mengontrol akses dengan ketat, HSM fisik maupun online (Ksema), serta mengimplementasikan back up yang mumpuni. Dengan begitu, maka kita dapat menghindari ransomware.
Pertanyaan yang sangat baik, jawabannya semua komponen tersebut memiliki vulnerability sendiri-sendiri sebagai celah masuknya ancaman Ransomware:
Dan, pencegahannya sudah dijelaskan dalam presentasi sebelumnya, ada 3 langkah yang dilakukan oleh attacker dalam deployment Ransomware: Access, Monitor, and Attack! CARAKA mengambil domain pengamanan pada konteks akses. Monitor itu domain dari teknologi lainnya yang bisa di-deploy untuk kebutuhan tersebut.
(1) Jika kita bicara tentang mata uang kripto, kita tidak bisa banyak komen, karena relevan dan tidak relevan itu tergantung pada teknologi yang akan datang itu bagaimana. Misalkan pemerintah melarang transaksi menggunakan bitcoin itu berarti menjadi tidak relevan. Jika masih ada kemungkinan dipakai bitcoin sebagai bagian dalam transaksi di suatu negara, maka permintaan tebusan menggunakan bitcoin menjadi relevan (meskipun dilarang bitcoin tetap dapat ditransaksikan, namun menjadi illegal). Bahwasannya muncul ransomware, salah satu faktornya adalah bitcoin yang sudah saya jelaskan. Sebab cara lain yang selain bitcoin itu tidak mudah, atau dapat dilakukan tracking, sehingga attacker juga mempertimbangkan dua kali untuk minta tebusan menggunakan media transfer uang yang konvensional.
(2) Kemudian external logging itu diletakkannya di suatu tempat yang sangat aman di cloud. Yang terpenting adalah ketika sebuah sistem breach atau di attack oleh attacker, dia bisa menghilangkan log yang ada di sana tapi tidak bisa menghilangkan log CARAKA, karena CARAKA ada di luar sistem tersebut. Jadi aplikasi yang diperkuat autentikasinya dengan CARAKA, sebetulnya dapat tidak terkoneksi ke internet. Kita punya mekanisme untuk autentikasi dengan SyncOTP (offline OTP) dan juga karena kita bisa authenticate kita juga bisa logging. Satu-satunya komunikasi antara perangkat dengan CARAKA adalah visual QR Code itu, dan kemudian typing respon challenge nya, jadi sangat aman dan terpercaya karena kita ngelock di internet yang tidak terhubung ke resource-resource yang diamankan.
Jika HP di-root atau jailbreak oleh seseorang atau malware, maka otomatis terdapat sebuah akses atau proses yang memiliki hak akses lebih tinggi dari user yang ada, dan ini juga dapat mengancam app CARAKA. Oleh karena itu, jika ingin menggunakan CARAKA mobile, maka tidak boleh menggunakan handphone yang terkena root/jailbreak.
Jika download aplikasi, sebaiknya download dari app store yang terpercaya karena sudah ada prosedur tertentu dan dapat diketahui siapa pembuat aplikasi. Jadi, jika ada institusi yang membuat aplikasi di dalam mobile yang ternyata isinya nasty code atau malware, maka dapat dengan mudah menemukan orangnya dan bisa dituntut.
Saya kira, kita hanya memiliki satu kesempatan mitigasi terhadap potensi serangan ransomware, yaitu before atau prevensi. Untuk during dan after silakan berkonsultasi dengan Vendor produk security seperti penyedia XDR, SDR, dll.
Untuk pencegahan, saran kami:(1) Pembatasan hak akses terhadap data menggunakan ACL dari sistem operasi. Sementara perangkat dalam sistem CARAKA dapat diatur tingkatan notifikasi sesuai keperluan, dari tingkat paling rendah yang dapat melakukan akses secara langsung, hingga tingkat paling tinggi yang memerlukan persetujuan (approval) dari atasan untuk setiap akses. Dengan demikian, jika sebuah perangkat disetel ke tingkat notifikasi paling tinggi (approval), setiap aksi penting hanya dapat dilakukan dengan sepengetahuan atasan.
(2) CARAKA tidak mencatat riwayat pengaksesan data, namun pengaksesan sistem.
(1) CARAKA tidak dirancang untuk mitigasi pasca serangan ransomware. CARAKA dirancang untuk menghindarkan sistem agar tidak terkena ransomware dengan cara mengontrol akses yang lebih mumpuni. Sehingga visibility end-to-end terhadap rantai akses data bukan menjadi domain delivery CARAKA.
(2) CARAKA mendukung MFA adaptif dengan kemampuan membatasi hak akses (melalui ring level) serta tingkatan notifikasi berbeda-beda untuk setiap perangkat yang terdaftar dalam sistem CARAKA. Dengan demikian, setiap perangkat dapat diatur sesuai dengan potensi risiko dari pemiliknya. Contohnya perangkat milik teknisi probation dapat ditempatkan di ring level rendah dan untuk akses memerlukan persetujuan dari atasan langsung.
(1) CARAKA memiliki fitur subordinate delegation sehingga dapat memberikan akses untuk device baru.
(2) CARAKA tidak mendukung federated identity (SSO) dari provider lain.
(1) Hak akses terhadap data menjadi domain Access Control List (ACL) dari sistem operasi Linux, sehingga bukan domain delivery dari CARAKA.
(2) CARAKA dirancang untuk mengamankan akses terhadap sistem, bukan untuk mencegah kebocoran data secara aktif atau langsung.
(1) CARAKA fokus dalam melindungi akses ke sistem dan setiap percobaan akses akan tercatat. Pengguna yang tidak memiliki ring level yang dibutuhkan atau permintaan akses approval yang ditolak, tidak akan bisa mengakses sistem. Di luar hal tersebut, itu adalah tugas dari endpoint security, bukan domain dari CARAKA.
(2) CARAKA tidak didesain untuk pemberian hak akses sementara secara otomatis. Pemberian hak akses selalu dilakukan dengan sepengetahuan seorang superordinate atau atasan. Saat ini, CARAKA menghindarkan perubahan Hak Akses secara otomatis, karena proses yang otomatis cenderung terlupa oleh atasannya sehingga memiliki potensi resiko.
(1) CARAKA membatasi pada level akses sistem, CARAKA tidak membaca perilaku pengguna dan melakukan penilaian apakah termasuk perilaku mencurigakan (AI dan heuristic system).
(2) CARAKA mengantisipasi serangan ransomware melalui pembatasan akses sejak awal sehingga akses yang tidak diinginkan tidak akan terjadi. Perlu dipahami, serangan ransomware itu tidak terjadi begitu saja, ada prosesnya. Dari awal adalah mendapatkan akses, baik dilakukan dengan scanning port, exploits, social engineering, virus/macro/trojan yang dapat mengirimkan informasi credential dan masih banyak lainnya. CARAKA mengamankan proses awal ini, ketika akses terjadi, CARAKA memastikan tidak dimanipulasi tanpa persetujuan. Proses berikutnya seperti monitoring dan deteksi, saat ini di luar domain delivery CARAKA.
(1) Keamanan endpoint bukan menjadi domain delivery CARAKA. CARAKA hanya bertugas untuk mencegah akses yang tidak sesuai, serta untuk memungkinkan pengauditan terhadap akses. Dalam hal BYOD, selama tidak ada manipulasi informasi konfidensial pada device user (Device User hanya dipakai sebagai interface saja) maka tidak perlu dilakukan instalasi PAM CARAKA karena tidak termasuk resource yang perlu diamankan aksesnya. Sebaliknya ketika device tersebut mengakses resource perusahaan maka akan mendapatkan challenge dari CARAKA untuk kebutuhan 2FA nya sehingga penumpang gelap dari device tersebut tidak dapat dengan mudah masuk karena harus melewati 2FA tersebut. Kecuali device user adalah bagian dari tempat manipulasi informasi sensitif kantor, maka harus juga ter-install CARAKA.
(2) CARAKA bukanlah sebagai pendeteksi ancaman dalam sebuah sistem. CARAKA berfungsi untuk memitigasi serangan dengan meningkatkan kontrol akses dengan lebih baik dan tercatat secara mandiri.
(1) Pengaturan hak akses dalam sistem CARAKA didesain sangat sederhana sehingga mengurangi peluang adanya miskonfigurasi. Penerapan kontrol akses pada setiap resource adalah sama pada setiap teknologi cloud, menggunakan implementasi PAM pada proses login OS Linux. Tidak ada potensi yang dapat dimanipulasi oleh malware dalam mekanisme ini, kecuali kesalahan desain mekanisme delegasi, yang berarti adalah permasalahan tata laksana, bukan dari teknologi itu sendiri.
(2) Pembatasan hak akses data bukan merupakan domain CARAKA saat ini, melainkan ACL dari sistem operasi. Menarik ide yang disampaikan, kami akan assess apakah hal tersebut layak untuk diimplementasikan pada versi dimasa mendatang.
(1) Data QR yang ditransmisikan berbentuk ciphertext yang hanya bisa divalidasi oleh sistem CARAKA. Proses komunikasi antara device dan server pun dilindungi oleh SSL/TLS. Pada kondisi ini tidak ada potensi terjadi adanya eavesdropping dari MITM.
(2) CARAKA melakukan validasi perangkat dan institusi yang terhubung sehingga tidak bisa dipalsukan. Di dalam perangkat Android (saat ini baru hanya Android yang kami rilis) terdapat Vault yang kami pergunakan sebagai end-security. Reverse Engineering yang dilakukan tidak dapat melakukan tampering terhadap Vault tersebut. Bilamana Anda memiliki informasi mengenai bukti adanya tampering pada Vault tersebut, dengan senang hati kami akan mengevaluasinya.
(1) CARAKA menggunakan format data tertentu yang tidak dapat dipalsukan, sebab sistem CARAKA sendirilah yang akan memeriksanya. Di dalam format tersebut terdapat check dan validasi lainnya sehingga hampir tidak dapat dilakukan phishing pada QR Code tersebut, justru kami menantang siapa pun untuk membuktikan sebaliknya.
(2) CARAKA memiliki rate limiting dan akan mengunci sementara jika terjadi kegagalan autentikasi tiga kali berturut-turut.