Antusias peserta terhadap Equnix Weekly Tech Talk (EWTT) terus menunjukkan peningkatan. Hingga episode keempat ini, Equnix konsisten menghadirkan rangkaian webinar secara hybrid (online dan offline) yang bertujuan mengedukasi masyarakat mengenai teknologi informasi. EWTT #4 kali ini diikuti dengan 82 peserta dengan 16 peserta hadir langsung di kantor Equnix.
Pada sesi kali ini, Pak Julyanto Sutandang, seorang entrepreneur yang telah berkecimpung di dunia Open Source sejak 1994, membagikan insight mengenai potensi bisnis berbasis Open Source. Source code pada Open Source dapat diunduh, dikembangkan, dan digunakan sesuai dengan lisensinya.
Open Source ibarat produk yang memiliki dua sisi: abandon dan abundance. Abandon berarti seperti barang yang ditinggalkan: siapa pun boleh mengambil dan memakainya, tapi harus siap mengurus sendiri tanpa ada jaminan juga penanggungjawabnya. Dalam konteks software Open Source, pengguna harus siap menerima risiko bahwa jika mengalami masalah saat menggunakannya, pengguna tidak bisa sepenuhnya bergantung pada komunitas. Terlebih ketika digunakan untuk operasional bisnis sehingga sering dibutuhkan dukungan tambahan seperti managed support. Di sisi lain, Open Source juga mencerminkan abundance, yaitu kelimpahan tanpa batas. Karena berlisensi publik, semua orang di dunia adalah “pemilik” Open Source. Dua sisi inilah yang membuat Open Source bukan sekadar tersedia bebas, melainkan sesuatu yang perlu dirawat agar memberi nilai nyata bagi bisnis dan benar-benar bermanfaat.
Pahami Lisensi Sebelum Memulai
Salah satu kunci utama dalam membangun bisnis Open Source adalah pemahaman terhadap lisensi. Setiap lisensi memberikan hak dan batasan yang berbeda, antara lain:
GPL (General Public License): memastikan software dan setiap turunannya tetap harus bersifat terbuka.
BSD, MIT-Like: memberikan fleksibilitas lebih, dapat di-relisensi.
Attribution Like: mewajibkan pencantuman nama pencipta asli.
Dengan memahami lisensi, pebisnis dapat mengembangkan berbagai model komersialisasi, mulai dari bundling produk, relisensi, hingga penyediaan layanan berbasis cloud.
Tantangan & Ekosistem Bisnis
Meski potensinya besar, bisnis berbasis Open Source tetap menghadapi sejumlah tantangan, seperti stigma inferior, rumor negatif, hingga keterbatasan dukungan teknis. Oleh karena itu, diperlukan pengembangan ekosistem dari tiga aspek utama yang saling bersinergi, meliputi Akademisi, Bisnis, dan Pemerintah:
Akademisi menyiapkan SDM unggul,
Dunia bisnis mengadopsi dan mengembangkan solusi nyata,
Pemerintah menciptakan regulasi yang mendukung.
Kolaborasi ketiga pihak ini akan menjadikan Open Source tidak hanya digunakan oleh komunitas, tetapi juga memberikan manfaat luas bagi masyarakat serta mendukung kemandirian teknologi.
Tantangan & Ekosistem Bisnis
Materi selengkapnya dapat Anda simak di YouTube Channel Equnix Business Solutions.
Terdapat beberapa mekanisme yang dapat digunakan saat mengadopsi Open Source sebagai bagian dari solusi bisnis kita, yaitu:
Jika ingin aman dalam hal skalabilitas, tetapi kita belum dapat menguasai software Open Source secara mandiri, maka harus ada pihak ketiga (vendor) yang memiliki penguasaan terhadap software tersebut agar dapat di-deliver dengan baik.
Implementasi penggunaan Open Source akan berbeda-beda di setiap jenis bisnis, yaitu:
Bagi pebisnis yang berinisiasi untuk menjual solusi berbasiskan Open Source, seharusnya menyasar korporasi (enterprise), dan kita dapat memberikan harga yang cukup. Namun, kita akan membutuhkan effort yang besar, seperti belajar, menguasai Open Source, melakukan riset, hire orang dengan jumlah yang cukup untuk dapat brainstorm dan improve, mengedukasi, dan membangun komunitas pengguna. Jika bisnis Open Source dengan menyasar UMKM, sepertinya agak sulit. Pilihannya adalah langsung menyasar enterprise, memberikan solusi yang cocok untuk the real business.
Jika pertanyaan yang dimaksud adalah menggunakan software Open Source sebagai user di start up, maka bisa memilih Open Source yang paling banyak digunakan dan memiliki komunitas yang aktif sehingga jika ada masalah pada software tersebut, pihak start up bisa meminta bantuan dari komunitas. Namun, untuk perusahaan mandiri, kita tidak dapat bergantung pada komunitas, melainkan harus memiliki support yang mumpuni.
Jika kita menjual Open Source sebagai produk kita, maka kita dapat menentukan kategori Open Source yang sesuai dengan kebutuhan bisnis kita. Open Source dapat dikategorikan menjadi:
Tingkat kesulitan akan memengaruhi persaingan di market. Untuk Open Source yang sulit dikembangkan, seperti kategori infrastruktur, maka jumlah kompetitor akan lebih sedikit. Sedangkan, untuk Open Source yang lebih mudah dikembangkan, maka kompetitornya akan lebih banyak.
Kita juga dapat memilih cara mengemas Open Source dengan pilihan berikut:
Kami kategorikan Open Source sebagai berikut:
Kemudian, untuk kasus Java, itu merupakan salah satu resource SUN Microsystem yang mana sudah dibeli oleh Oracle, dan CEO SUN Microsystem juga mengizinkan Oracle untuk menggunakan Java dalam bisnisnya.
Saran kami, jika menggunakan Wordpress untuk kebutuhan komersial atau bisnis, lebih baik gunakan yang versi lisensi komersial. Selama software itu memiliki versi komersialnya, artinya kita sebagai pebisnis harus membeli lisensinya sebagai pengaman. Bisa juga kita tidak membeli lisensi, tetapi hanya membeli Managed Support saja, maka itu dapat dilakukan, tetapi hasilnya tidak akan maksimal.
Begitu pun pada penggunaan Java. Menurut kami, dengan melihat kasus penuntutan Oracle terhadap Google yang mempermasalahkan programming language Java pada Dalvik di android, maka sebaiknya tidak menggunakan Java untuk menghindari potensi pelanggaran hukum.
Jika perusahaan Bapak ingin merilis software Open Source, tetapi masih menggunakan Java ataupun Wordpress, maka modelnya adalah Company Endorsed atau Marketing Gimmick. Bapak bisa menginfokan ke publik bahwa software yang Bapak rilis dapat dipelajari dengan baik, tetapi untuk versi yang lebih advance, kita sediakan website untuk membeli lisensinya.
Namun, jika perusahaan ingin membuat Open Source sendiri dari awal, maka cocok dengan lisensi GPL. Nanti jika ada pihak lain yang berkontribusi, maka akan tetap menjadi GPL. Sementara, jika menggunakan lisensi BSD, maka ada kemungkinan pihak lain menggunakan software tersebut dan nantinya bisa menjadi kompetitor perusahaan Bapak.