Equnix Business Solutions | an Open Source and Open Mind Company
Webinar Series| Equnix Business Solutions

Bangun Solusi Open Source atau Jual Produk Asing, Mana yang Lebih Menguntungkan?

Equnix Weekly Tech Talk (EWTT) Episode #5 hadir dengan format yang menarik. Kali ini, pembicara utama, Pak Julyanto Sutandang ditemani oleh tamu diskusi, Pak Tonny Leonard, seorang praktisi berpengalaman di bisnis IT dan industrial. Diskusi ini tidak hanya membedah keuntungan bisnis sebatas finansial, tetapi juga memperluas definisi profit menjadi keuntungan yang bersifat holistik, meliputi aspek sustainability, pemberdayaan masyarakat, dan peningkatan taraf hidup.

Dalam sesi ini, Pak Tonny membagikan cerita inspiratif mengenai pengalamannya membangun solusi berbasis Open Source di saat ketiadaan produk komersial dengan spesifikasi yang dibutuhkan. Meski sudah lama ia lupakan, solusi tersebut terus berjalan hingga bertahun-tahun kemudian dan memberikan manfaat berkelanjutan bagi kliennya. Menanggapi hal ini, Pak Julyanto memaparkan bahwa Open Source jauh melampaui sekadar teknologi; ia adalah wujud nyata dari kemandirian dan keberlanjutan bisnis.

Memanfaatkan Open Source untuk bisnis memang membutuhkan “harga mahal” yang harus dibayar. Pebisnis perlu membangun ekosistem mandiri, edukasi secara berkelanjutan, menciptakan pasar sendiri, dan berinvestasi memberdayakan SDM internal. Meskipun berisiko tinggi, effort besar ini terbayar dalam jangka panjang. Solusi yang tercipta menghasilkan keuntungan finansial jauh lebih besar dan dampak holistik yang konstruktif.

Di sisi lain, berbisnis dengan produk asing menawarkan jalan yang mudah dan cepat karena pasar sudah terbentuk dan marketing sudah dilakukan oleh principal sejak awal. Namun, kemudahan ini datang dengan keterbatasan, yaitu ketergantungan pada policy principal dan minimnya impact holistik.

Menyadari trade-off tersebut, Equnix memilih jalan yang “berliku” dengan fokus pada pemanfaatan Open Source dan riset. Perjuangan ini terbukti sepadan. Hingga kini, tercatat proyek penghematan devisa negara hingga lebih dari 1 Triliun, membuktikan bahwa Blue Ocean berbasis Open Source adalah pilihan strategis yang berkelanjutan.

ewtt_2024_ep05_01 ewtt_2024_ep05_02 ewtt_2024_ep05_03 ewtt_2024_ep05_04 ewtt_2024_ep05_05 ewtt_2024_ep05_06 ewtt_2024_ep05_07 ewtt_2024_ep05_08

Rangkuman QnA EWTT Eps #5

Pemerintahan memang tidak bisa kita treat sama dengan private sector. Jadi tentunya pendekatannya harus lebih baik karena pemerintahan itu membutuhkan kepastian, kepatuhan terhadap Good Corporate Governance (GCG) yang lebih tinggi karena ada auditor yang lebih ketat. Kuncinya adalah bagaimana kita meyakinkan bahwa layanan yang kita berikan benar-benar mempunyai support yang baik. Jadi seperti yang minggu lalu kita jelaskan bahwa ketika kita berbisnis menggunakan Open Source, satu hal yang harus kita punya adalah menguasai Open Source dengan sebaik-baiknya seakan itu adalah produk kita sehingga kita mampu memberikan layanan sampai kepada level sekelas principal. Dengan cara itu maka kita bisa dengan percaya diri masuk ke dalam sektor pemerintahan. Saya kira tidak hanya dalam pemerintahan, hal tersebut juga berlaku dalam semua bisnis. Dalam bisnis yang berbasiskan Open Source, terdapat berbagai level layanan. Ada yang hanya menjual support dan ada yang hanya menjual operation supportnya saja. Namun, untuk level government tidak cukup hanya di level itu. Layanan yang diberikan harus di level yang paling ultimate, level principal dan juga supportnya sangat tinggi. Tidak boleh kita memberikan delivery yang cacat.
Jelas sangat berbeda, satunya red ocean dan satunya blue ocean. Untuk red ocean saya tidak bisa berbicara banyak, karena kita tidak ingin berbicara di situ. Red ocean sangat emotionally driven, perang harga, tergantung pada principal. Principal mengatur pada apa yang kita lakukan. Karena kami tidak pernah menjadi reseller yang diatur-atur, red ocean bukan pilihan kita dan memang tidak akan dijelaskan bagaimana bisnis di red ocean. Yang akan kita bahas adalah bagaimana kita akan berbisnis di blue ocean, bagaimana kita bisa berenang dengan tenang, karena kita memberikan keunggulan kompetitif, riset, mencari solusi secara mandiri, tidak perlu bersaing dengan orang lain, harga yang kita berdasarkan apa yang kita lakukan. Semuanya kita lakukan on our own pace.
Saya kira hal tersebut tidak bisa dijawab secara sederhana, karena hal tersebut ada banyak parameter yang tidak diketahui, mulai dari jenis software-nya, kebutuhannya, hingga seperti apa bisnis proses yang dijalankan. Jadi penguasaan terhadap proses bisnis itu penting karena software hanyalah implementasi dari proses bisnis yang diotomatisasi. Misalnya, berdasarkan pengalaman kami ketika menggantikan oracle dengan Postgres, kami harus benar-benar memahami konsep RDBMS, apa itu ACID, untuk apa gunanya, apakah bersifat transactional atau analytical, di mana ranahnya, perbankan, telco atau manufacturing. Pemahaman tersebut yang akan membantu kita memahami pain points pengguna. Setelah kita tahu pain pont-nya maka kita bisa menganalisis lebih lanjut, mencari solusi-solusi yang bisa kita tawarkan. Karena ketika kita menggabungkan teknologi dengan kontek industri, maka akan menjadi berbeda. Sebagai contoh, RDBMS di perbankan dan di telco itu berbeda. Kalau di perbankan TPS nya bisa mencapai puluhan hingga ratusan. Sedangkan telco bisa mencapai ribuan hingga puluhan ribu, namun dengan ukuran transaksi yang kecil-kecil. Artinya, beda behaviour sehingga solusi yang digunakan tidak bisa disamakan. Kalau misalkan dibutuhkan RDBMS tapi bukan untuk transaction, hanya logging saja, mungkin Postgres bukan pilihan terbaik dan ada yang lebih bagus. Namun jika yang dibutuhkan adalah untuk financial transaction, di mana tidak boleh ada yang salah, hilang, meleset, atau tidak boleh ada masalah di data integrity-nya maka Postgres adalah pilihan yang tepat. Jadi sangat banyak faktor yang mempengaruhi proses R&D, tidak bisa ditentukan dengan pasti berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk proses R&D tersebut, bisa dalam jangka waktu bulanan atau bahkan tahunan.
Tidak disarankan untuk perusahaan/korporasi besar mengadopsi secara langsung karena akan sangat pain dan tidak ada support. Karena yang akan suffer adalah tim internal perusahaan itu sendiri yang kemudian bisa saja menjadi burnout dan akhirnya berantakan. Perusahaan tidak boleh menggantungkan risikonya pada personal. Perusahaan itu harus menggantungkan diri pada perusahaan lain. Karena jika perusahaan lainnya memiliki masalah, kita masih bisa aman secara hukum, bisa evaluasi lebih bagus karena company pasti punya responsibility terhadap delivery-nya dibandingkan personal. Jadi, saran pertama adalah sebaiknya jangan investasi secara internal independently, kecuali memang sudah ada vendornya yang melaksanakan itu dan ingin transfer knowledge/operationnya mulus sehingga tim sendiri dapat mengetahuinya, maka boleh kita invest dan disetiap role yang ada itu cukup 2 orang saja. Tentunya jadi inisiasi yang cukup besar karena harus ada people yang di-invest, di-training, dan sebagainya. Kalaupun tidak, kita harus memilih vendor yang qualified, yang mumpuni, yang bisa mendeliver layanan dengan level yang baik, ada SLA, aturan hukum jelas, ada audit untuk evaluasi setiap bulan atau per-3 bulan dan pastikan vendor tersebut sudah memiliki portfolio yang sudah terbukti.
Dulu kami pernah membuat sistem pin untuk daily report. Daily report mungkin hal yang sederhana untuk temen-temen IT, bisa menggunakan excel dsb. Problemnya adalah bagaimana daily report tersebut dapat membaca data secara langsung dari mesin. Sebelumnya, laporan harus dicetak setiap waktu tertentu, kalau terlambat, data bisa berubah. Dengan aplikasi yang baru, laporan bisa dicetak setiap saat atau bahkan tidak perlu dicetak lagi karena bisa langsung di-convert ke pdf dan dikirim melalui email. Beberapa sudah di-set otomatis setelah laporan per-shift dikirim ke pihak-pihak tertentu. Mungkin yang perlu saya highlight terkait dengan IOT, robot sendiri punya Open Source yang namanya Robot Operating System (ROS), beberapa vendor sudah menggunakan software itu. Bagi teman-teman IT, IoT mungkin hanya seperti mainan layaknya Raspberry Pi atau Arduino. Di dalam industri belum tentu cocoksehingga kami mengakalinya di level software. Tidak melalui Arduino, kami langsung men-tap data dari sumber-sumber hardware yang sudah proven, seperti PLC (Programmable Logic Controller) atau DCS (Distributed Control System). Data dari situ kami ambil dengan software-software yang bisa jadi standar, menggunakan Python dan Node Red. Data tersebut kemudian diintegrasikan dengan ERP dan Business Intelligence. Untuk ERP berbasis Open Source masih belum terasa di industri. Kami bisa mengintegrasikan itu dengan tools yang pada dasarnya Open Source, tapi kami masak. Kalau untuk aplikasi business intelligence, kami sudah mulai memakai solusi Open Source, meski belum sepenuhnya. Misalkan Grafana, kami punya klien perusahaan global yang memakai Grafana Enterprise berbayar dan biayanya ditanggung bersama-sama. Tapi kalau perusahaannya hanya satu dan lokal, kami tawarkan Grafana yang versi gratis. Saat ini saya sedang mengeksplor Metabase sebagai opsi Business Intelligence lain. Semua itu merupakan opsi-opsi yang kami tawarkan di dunia IoT, yang biasa disebut IT/OT Convergence, dua dunia besar yang terpisah dan kami menjembatani antara keduanya.
Justru sumber daya development Open Source sebenarnya tidak kalah besar, hanya tidak kelihatan. Kalau kita membuat software from scratch untuk bersaing secara langsung dengan produk proprietary ini memang susah. Namun, ini bukan topik yang kita bahas sekarang ini. Jadi yang kita bahas sekarang adalah bagaimana mengembangkan produk yang berbasis Open Source yang sudah ada dan kita kemas dengan lebih baik, kita repackage, kita resilience. Meski kelihatannya mudah, tapi sebenarnya tidak begitu mudah. Kita harus melakukan market research, kita harus tahu pain pointnya, bagaimana konversinya, dan bagaimana cara membangun komunitasnya. Ada banyak hal dan PR yang harus dilakukan. Sementara hal-hal tersebut tidak dilakukan oleh reseller produk asing.
Open Source itu tidak gratis, tetapi sesuatu yang boleh dipakai oleh siapa pun tanpa ada kesempatan untuk menuntut karena use at your own risk. Saat ada masalah harus dipikirkan siapa yang mengatasinya, jika ada risiko siapa yang akan menanggungnya. Hal inilah yang menyebabkan adanya tambahan biaya, yaitu dari sisi supportnya, setidaknya. Belum lagi bilamana ingin memberikan solusi yang lebih baik lagi, dengan cara kita mendedikasikan waktu dan biaya untuk mempelajari lebih jauh sehingga dapat memberikan garansi selayaknya principal, tentu hal tersebut sangat membutuhkan biaya besar.
Kita bedakan developer Open Source dengan pebisnis yang menggunakan Open Source untuk menjadi solusi bisnis. Yang dibahas di sini adalah orang yang ingin menggunakan Open Source sebagai cara kita untuk menjalankan bisnis atau untuk mencapai kemandirian. Kita tidak berhubungan dengan para developer, baik itu dari Indonesia ataupun bukan. Misalkan pebisnis Open Source sudah melakukan banyak hal dari sisi sales marketing terhadap Open Source tersebut, maka apakah dapat dikatakan pebisnis tersebut tidak berkontribusi terhadap Open Source? Tentu tidak. Pebisnis tersebut sudah berkontribusi mengantarkan kebaikan tertinggi Open Source terhadap klien-kliennya. Maka sebetulnya dari sisi bisnis sendiri fokus kita mengadopsi Open Source untuk kebutuhan bisnis di korporasi agar menghindarkan dari vendor lock-in. Dan tidak berhubungan dengan peningkatan 32% kontribusi developer Asia tadi. Jadi ada perbedaan konteks bahasan, ya?

Karena kita sudah kalah langkah selama bertahun-tahun, saya tidak bisa memberikan komentar lebih lanjut. Infrastruktur lokal kita memang masih memiliki kekurangan. Pertanyaan seperti ini mungkin lebih cocok ditujukan kepada vendor cloud lokal, kenapa tidak ada cloud lokal, hanya ada cloud asing? Idealnya memang sebaiknya kita menggunakan local cloud saja. Namun, harus diakui bahwa dari sisi efisiensi dan kemudahan pengguna, cloud asing masih lebih unggul. Meski in the long run pasti akan mahal dan akan lock-in. Ini hal yang harus kita pahami baik-baik.

Saya juga memahami pain point yang dirasakan oleh rekan-rekan yang ada di operation dan rekan-rekan yang ada di bisnis. Misalnya, mereka sudah ada inisiasi bisnis 2 tahun lalu tapi belum terealisasi sampai sekarang, padahal kalau pakai cloud asing, mungkin sudah jadi 1 tahun yang lalu dan sudah mendapatkan keuntungan. Kita tidak bisa langsung memberikan saran harus menggunakan ini, aspek bisnis juga harus dipertimbangkan. Saya kira hal tersebut bukan konteks yang kita bahas, konteks yang kita bahas berdasarkan pertanyaan tadi adalah bagaimana cloud lokal vs asing. Saya kira selalu ada jalan keluar, misalnya dengan melakukan scanning lebih lanjut siapa tahu ada vendor lokal yang mempunyai kemampuan lebih baik dibandingkan dengan cloud asing. Sebetulnya by the end masalah kita ada di SDMsehingga conductnya kurang dan membuat banyak pihak akhirnya memilih beralih ke cloud asing.

Startup itu DNA-nya adalah Open Source karena supaya bisa agile. Konsep startup itu agile development and growth. Oleh karena itu, menggunakan Open Source supaya cepat growth. Startup akan prefer untuk meng-hire seseorang yang cukup pintar di Open Source dan tidak mengeluarkan uang besar untuk meng-hire vendor supaya sistemnya berjalan. Uang yang diinvestasikan oleh investor dapat digunakan untuk advertising atau promotion, bukan mengembangkan teknologi secara membeli lisensi dan seterusnya.
License itu adalah sebuah turunan dari sebuah paten atau hak cipta, yaitu hak untuk menggunakan. Jadi semua produk harusnya ada license-nya kalau kita mau jual. Jadi Open Source sendiri walaupun tidak dijual pun punya license. Kalau ditanya apa gunanya license di Open Source? Untuk melindungi agar tidak diakui oleh orang lain.
Semua teknologi membutuhkan ekosistem. Jika mengembangkan teknologi dan produk sendiri, artinya harus mengembangkan ekosistem, termasuk komunitasnya, seperti komunitas pengguna, profesional, dll. Pengembangan produk mandiri berbasiskan Open Source, maka harus mengembangkan tim support, mengembangkan SDM-nya, sales-nya, dan sebagainya. Komunitas pengguna bisa membuat grup-grup pengguna, juga membuat sosialisasi dan gathering. Membangun hubungan dan komunikasi yang lebih lancar dengan sesama stakeholder.
Sebetulnya tidak perlu dibandingkan efisiensi mana yang lebih baik karena sudah bicara digital sovereignty, artinya (sebetulnya) tidak boleh menggunakan software asing. Artinya, kalau kita gunakan software asing, kita punya risk di dalam mencapai sovereign itu, kecuali setiap software yang ada kita lakukan audit secara menyeluruh sehingga kita bisa pastikan tidak ada data yang mengalir yang menjadi violation terhadap digital sovereignty. Efisiensi dari implementasi tidak melulu kualitas software. Software quality tidak menjamin efisiensi penggunaan, karena software itu tidak bisa berdiri sendiri. Software merupakan satu komponen. Komponen lainnya adalah hardware-nya, card, network, dan seterusnya. Bagaimana operation yang dilakukan? Efisiensi tercipta dari kesinambungan, kesatuan dari semua faktor itu semua resource yang adasehingga kita bisa menciptakan itu. Bisa jadi ada software yang luar (asing) mungkin lebih efisien secara proses bisnis karena lebih nature, sementara yang lokal belum efisien tapi compare dengan cost yang dikeluarkan TCO kita lebih baik. Selama bisa conduct dengan baik, desain dengan baik sistemnya, bisa mendapatkan TCO yang baik, efisiensi akan tercapai lebih baik.
Bila dibandingkan dengan proprietary, solusi Open Source lebih unggul dari sisi biaya dan fleksibilitas, karena dapat digunakan tanpa lisensi berbayar dan dapat digunakan sesuai dengan kebutuhan organisasi. Namun, pengelolaannya butuh kemampuan teknis yang lebih memadai, dan juga sering kali support resmi tidak aksesibel. Sebaliknya, solusi proprietary menawarkan kenyamanan dan dukungan penuh namun biayanya cenderung tinggi dan berpotensi menyebabkan ketergantungan pada penyedia layanan (vendor lock-in). Solusi berbasiskan Open Source cenderung memberikan value yang lebih tinggi di masa berikutnya, dan yang paling utama adalah memberikan kemandirian dalam berusaha, kebebasan dalam mengelola bisnisnya.
Tantangan utamanya adalah kesiapan organisasi, terutama dari sisi sumber daya manusia dan tata kelola. Teknologi Open Source memerlukan tim dengan kompetisi teknis yang cukup untuk mengimplementasikan solusi secara lebih mandiri, tanpa “guide” yang memadai dari penyedia software. Tantangan lain ada pada persepsi manajemen terhadap risiko, khususnya risiko keamanan dan stabilitas yang dinilai lebih tinggi dibandingkan solusi komersial.

Tidak terlalu jauh berbeda dengan cara memastikan keamanan software proprietary, sedikit bedanya ada pada lebih banyak opsi yang dapat kita gunakan untuk meningkatkan pengamanan dan tingkat kebebasan yang lebih besar untuk melakukan pengamanan.

Untuk menjaga keamanan software Open Source, pastikan kita hanya menggunakan dari sumber resmi dan terpercaya. Sebelum dipakai, software sebaiknya ditinjau terlebih dahulu oleh tim expert security, atau bilamana tidak memilikinya dapat menggunakan pihak ketiga, atau meminta pertanggungjawaban vendor untuk melaksanakan hal tersebut karena latent security adalah tanggungjawab Principal, sementara operational security adalah tanggungjawab tim delivery dan operation (SI maupun tim Manage Service/support)

Hal yang tidak kalah pentingnya adalah apakah dalam kebijakan internal perusahaan sudah mengatur atau memiliki aturan maupun policy terkait security? Bilamana belum, apakah sudah melaksanakan compliance terhadap standarisasi terkait security seperti ISO, PCI-DSS, ataupun aturan yang diaturkan oleh regulator?

Ada banyak kebebasan untuk pengamanan sistem yang dapat diimplementasikan pada solusi berbasiskan Open Source, hanya terlihat terlalu banyak dan membingungkan sementara software proprietary hanya bisa dilaksanakan sesuai dengan aturan dari principal yang umumnya cukup terbatas namun tidak menyeluruh.

Terdapat banyak jenis lisensi Open Source yang menentukan hak dan batasan dalam penggunaan, modifikasi, dan distribusi software. Misalnya, lisensi GPL mewajibkan setiap turunan kode tetap bersifat terbuka, sedangkan lisensi MIT atau Apache lebih permisif dan memperbolehkan integrasi ke dalam produk komersial tanpa kewajiban membuka kode. Pemahaman terhadap jenis lisensi sangat penting karena kesalahan dalam penggunaannya dapat menimbulkan implikasi hukum, terutama jika software tersebut digunakan secara komersial atau digabungkan dengan komponen berpaten. Dari informasi di atas dapat dipahami dengan fleksibilitas lisensi yang umumnya dimiliki oleh Open Source, maka distribusinya akan lebih mudah dan luwes sehingga adopsinya pun mudah membesar, hanya secara umumnya dipergunakan secara amatiran saja, dibutuhkan excitement seperti adanya vendor yang menguasai secara mumpuni agar software Open Source tersebut dapat dipergunakan dengan baik oleh lingkungan bisnis apalagi bisnis korporasi.
Pertanyaan ini cukup sulit dijawab karena ada banyak flavour dan tidak ada aturan yang pasti. Ada yang menjawab menggunakan Confluent, Jira, excel, Notepad, Git, Github, atau Gitlab. Masih banyak pilihan yang lainnya, namun yang paling utama adalah waktu yang cukup untuk mempelajari dan berkontribusi pada proyek tersebut.
Sangat besar, faktor utama munculnya penggunaan software yang berbasiskan Open Source adalah untuk menghindarkan Vendor Lock-in. Fungsi paling dominan dari Open Source adalah kemampuannya menjadi solusi alternatif sehingga kita dapat menghindarkan kuncian incumbent. Umumnya Vendor/Principal software proprietary akan melakukan eksklusifitas implementasi teknologi agar semakin tinggi tingkat ketergantungan klien terhadap teknologi, produk maupun layanan yang disediakan. Makin dalam ketergantungannya, makin susah atau mahal kita dapat menghindarkannya kemudian. Syukurlah dunia memiliki banyak orang baik yang bermurah hati mengembangkan software Open Source yang saat ini sudah banyak kita gunakan sebagai solusi alternatif menghindarkan dari Vendor Lock-in. Benar-benar sangat besar dampaknya Open Source dalam menghindarkan kita dari kuncian Vendor Proprietary tersebut.
Kedua jenis keahlian memiliki nilai, namun arsitek dan pengembang Open Source cenderung lebih strategis untuk jangka panjang. Mereka memiliki fleksibilitas tinggi dan tidak terikat pada satu vendor. Skill yang bernilai antara lain: kemampuan menguasai sistem berbasis Linux, scripting (Python, Bash, Go), automation tools (Ansible, Terraform), serta pemahaman mendalam terhadap container dan database Open Source seperti PostgreSQL. Di sisi lain, spesialis produk asing tetap dibutuhkan pada perusahaan yang telah berinvestasi besar di platform tertentu, namun ruang pertumbuhannya terbatas pada ekosistem vendor tersebut.

Strategi terbaik adalah fokus pada value perusahaan dan kedaulatan data, bukan hanya harga. Memahami tantangan apa yang dihadapi oleh pelaku pasar yang menggunakan solusi berbasiskan Open Source, seperti harus lebih keras berusaha dalam membuka market, mengembangkan ekosistem secara mandiri, melakukan edukasi masyarakat dalam tiga matra sekaligus: Akademisi, Bisnis dan Pemerintahan, mengembangkan jaringan yang lebih luas daripada produk proprietary, lebih jeli dalam mengembangkan model bisnis maupun perencanaannya, strategi marketing yang harus selalu diasah dan tentu saja tidak lupa memiliki persistensi, konsistensi maupun kecermatan secara terus menerus.

Edukasi pasar penting untuk dilakukan dengan cara seperti seminar, studi kasus, publikasi keberhasilan, dan demonstrasi produk (proof of concept/PoC). Selain itu, membangun kredibilitas melalui audit independen, sertifikasi, dan kolaborasi dengan lembaga pendidikan atau pemerintahan dapat memperkuat kepercayaan. Narasi pemasaran juga harus menonjolkan fleksibilitas, efisiensi total biaya kepemilikan (Total Cost of Ownership), serta kepastian dukungan lokal yang kuat.

Pertanyaan yang sangat menarik, secara sederhana mungkin bisa kita jawab. Secara umum menjadi Distributor ataupun reseller tidak akan mendapatkan margin yang menarik, namun cukup menarik kalau hanya dihitung sebagai keuntungan dagang saja (tidak menggolongkan dirinya sebagai perusahaan teknologi). Rerata reseller tidak dapat hidup hanya dengan mengandalkan margin dari penjualan lisensi atau produk itu saja, secara umumnya harus mengandalkan jualan layanan sampingan seperti local support, dll. Sementara bilamana Anda berbisnis dengan mengimplementasikan solusi berbasiskan Open Source, maka sudah jelas perusahaan Anda adalah perusahaan teknologi, sebab tanpa adanya penguasaan teknologi yang mumpuni sudah pasti tidak bisa memahami konstrain maupun kelebihan dari implementasi Open Source pada dunia bisnis. Meskipun perusahaan Anda hanya menjadi reseller dari vendor lainnya yang berbasiskan Open Source, sudah pasti margin yang akan didapat jauh lebih baik meskipun juga harus melakukan investasi lainnya seperti grooming team teknis untuk support dan lainnya.

Pertanyaan yang ditunggu-tunggu, sumber pendapatan yang paling realistis adalah Expert Support sebetulnya. Tidak hanya support seperti umumnya, namun sebuah orkestrasi tim yang beragam dari Tim Riset, Development, DevOps, Support, Security Expert, sampai dengan tim Operation and Project Management yang mumpuni. Hal ini terlihat sulit bagi orang awam, tapi ini lah yang sebenarnya harus dilakukan dan apa yang kami lakukan. Pemahaman sistem yang menyeluruh dari stack hardware sampai dengan proses bisnis menjadi keharusan untuk dikuasai. Contohnya, software Open Source Postgres, tentu akan memiliki dependency pada sistem operasi sampai dengan prosesor, tanpa penguasaan yang lengkap, maka tidak akan dapat memberikan solusi yang menyeluruh.

Namun, Expert Support ini sebetulnya bisa kita terjemahkan dalam bentuk penjualan lisensi, managed support, consulting, package sampai dengan cloud services. It depends on how we creatively craft our solution!

Transparansi bukanlah kelemahan, justru merupakan kekuatan utama Open Source. Dengan kode yang terbuka, komunitas global dapat melakukan audit dan menemukan kerentanan lebih cepat dibandingkan model tertutup. Proyek besar seperti Linux, PostgreSQL, dan OpenSSL telah membuktikan stabilitas dan keamanannya melalui ribuan kontribusi dan audit terbuka. Risiko keamanan biasanya muncul bukan karena kode terbuka, tetapi karena pengelolaan yang kurang disiplin seperti tidak memperbarui patch keamanan atau salah konfigurasi. Dengan tata kelola yang baik, Open Source dapat memiliki tingkat keamanan yang setara bahkan lebih unggul dibandingkan software proprietary.
Bilamana bisnis ingin dapat mencapai efisiensi terbaik, maka harus mengimplementasikan teknologi lokal mandiri. Hal ini sudah sangat jelas, tidak dapat dipungkiri oleh siapa pun. Namun ada benarnya memahami bahwa tidak mudah mendapatkan teknologi yang lokal mandiri, setidaknya teknologi yang mandiri meskipun belum 100% lokal seperti misalnya ada mesin-mesin yang sudah diproduksi lokal meskipun masih menggunakan lisensi asing. Ketergantungan terhadap Vendor Asing jelas membuat biaya produksi mahal dan pada akhirnya tidak tercapai nilai efisiensi yang dibutuhkan untuk memasuki level berikutnya. Bilamana tercipta efisiensi yang baik, pabrikan dapat berkreasi dengan lebih baik, memberikan pilihan produk yang lebih beragam, lebih menarik atau malah lebih banyak agar pasar terbuka lebih lebar, akuisisi pelanggan semakin cepat.
Ya, tentang hal ini tentu saja hanya perbedaan sudut pandang, saya belum mendapati sebuah teknologi yang bisa mendeviasi hukum alam. Semua teknologi yang saya ketahui dan gunakan selalu tunduk berada di ranah cakupan hukum alam yang sama sejak berjuta tahun yang lalu. Hanya dengan kepandaian manusia bisa memitigasi, menyiasati hukum alam sehingga dapat mengambil manfaat yang besar dan menjadikannya keuntungan untuk hidup yang lebih baik. Disrupsi akan selalu ada, dan ini sudah berlangsung sejak zaman batu. Tidak ada yang baru dibawah Matahari. Kalau yang diacu apakah teknologi AI sudah menjadi aktor utama? Jawabannya masih jauh sekali dari kenyataan. Dalam setiap mesin AI, ada perkiraan nilai/weight yang harus di akomodasi, tidak juga bisa benar-benar sama karena kalo sangat sama tidak ada perkiraan pendekatan angka maka akan menghasilkan AI yang tidak bisa menjawab apapun pertanyaan kita.
Kalau kita sudah punya produk terus baru melakukan market research sepertinya ada yang tertinggal, tetapi tidak apa, better late than never. Sebetulnya akan lebih ideal kalau kita melakukan riset pasar sebelum memiliki produk. Tetapi bisa juga kita melakukan perubahan positioning, feature, dan target market agar produk kita yang sudah jadi itu dapat diterima dan diadopsi oleh pasar. Riset pasar adalah langkah tepat untuk mendapatkan insight sebagai bahan pertimbangan dalam mengatur strategi dan langkah kedepannya. Dengan beberapa metode seperti melaksanakan survey, wawancara terhadap candidate, menyewa jasa professional survey, melakukan kegiatan PR untuk mendapatkan feedback. Dan masih banyak lagi yang bisa kita lakukan untuk mendapatkan banyak input yang nantinya kita evaluasi bersama-sama dengan tim. Salah satu metode analisis yang baik dalam hal ini adalah SWOT, dimana kita bisa melakukan langkah langkah mitigasi agar dapat memindahkan weak menjadi strength, dan tantangan menjadi opportunity. Mitigasi itulah dasar yang baik untuk kita membuat strategi yang lebih baik dalam pengembangan produk dan solusi kita.

Kami adalah pengembang, pioneer dalam pengembangan solusi bisnis enterprise berbasiskan Open Source. Pertanyaan tersebut sebetulnya tidak relevan dengan kami, namun kami mencoba menjawab dengan mempertimbangkan obstacle yang kami sering hadapi dalam interaksi dengan masyarakat bisnis secara umumnya di Indonesia.

Mindset inferior adalah yang paling kental, rasa rendah diri dan juga sekaligus mudah sombong sering kali menjadi tabir yang membuat kita tertutup tidak dapat melihat kebenaran yang sudah diungkapkan. Kami sering kali menemui kesulitan akan sikap seseorang yang keras kepala terhadap solusi atau produk lokal, meskipun didepan mata sudah melihat dengan jelas adanya perubahan yang terjadi.

Adalah tidak mudah memahami kemajuan solusi yang dibuat dengan pertimbangan teknologi yang menyeluruh dari stack bawah sampai atas sehingga secara umumnya akan terasa sulit untuk dipahami oleh mereka yang tidak pernah belajar dengan baik akan stack teknologinya namun sudah terburu dianggap senior atau pintar sehingga malu untuk bertanya dengan kerendahan hati.