Equnix Weekly Tech Talk (EWTT) Episode #5 hadir dengan format yang menarik. Kali ini, pembicara utama, Pak Julyanto Sutandang ditemani oleh tamu diskusi, Pak Tonny Leonard, seorang praktisi berpengalaman di bisnis IT dan industrial. Diskusi ini tidak hanya membedah keuntungan bisnis sebatas finansial, tetapi juga memperluas definisi profit menjadi keuntungan yang bersifat holistik, meliputi aspek sustainability, pemberdayaan masyarakat, dan peningkatan taraf hidup.
Dalam sesi ini, Pak Tonny membagikan cerita inspiratif mengenai pengalamannya membangun solusi berbasis Open Source di saat ketiadaan produk komersial dengan spesifikasi yang dibutuhkan. Meski sudah lama ia lupakan, solusi tersebut terus berjalan hingga bertahun-tahun kemudian dan memberikan manfaat berkelanjutan bagi kliennya. Menanggapi hal ini, Pak Julyanto memaparkan bahwa Open Source jauh melampaui sekadar teknologi; ia adalah wujud nyata dari kemandirian dan keberlanjutan bisnis.
Memanfaatkan Open Source untuk bisnis memang membutuhkan “harga mahal” yang harus dibayar. Pebisnis perlu membangun ekosistem mandiri, edukasi secara berkelanjutan, menciptakan pasar sendiri, dan berinvestasi memberdayakan SDM internal. Meskipun berisiko tinggi, effort besar ini terbayar dalam jangka panjang. Solusi yang tercipta menghasilkan keuntungan finansial jauh lebih besar dan dampak holistik yang konstruktif.
Di sisi lain, berbisnis dengan produk asing menawarkan jalan yang mudah dan cepat karena pasar sudah terbentuk dan marketing sudah dilakukan oleh principal sejak awal. Namun, kemudahan ini datang dengan keterbatasan, yaitu ketergantungan pada policy principal dan minimnya impact holistik.
Menyadari trade-off tersebut, Equnix memilih jalan yang “berliku” dengan fokus pada pemanfaatan Open Source dan riset. Perjuangan ini terbukti sepadan. Hingga kini, tercatat proyek penghematan devisa negara hingga lebih dari 1 Triliun, membuktikan bahwa Blue Ocean berbasis Open Source adalah pilihan strategis yang berkelanjutan.
Karena kita sudah kalah langkah selama bertahun-tahun, saya tidak bisa memberikan komentar lebih lanjut. Infrastruktur lokal kita memang masih memiliki kekurangan. Pertanyaan seperti ini mungkin lebih cocok ditujukan kepada vendor cloud lokal, kenapa tidak ada cloud lokal, hanya ada cloud asing? Idealnya memang sebaiknya kita menggunakan local cloud saja. Namun, harus diakui bahwa dari sisi efisiensi dan kemudahan pengguna, cloud asing masih lebih unggul. Meski in the long run pasti akan mahal dan akan lock-in. Ini hal yang harus kita pahami baik-baik.
Saya juga memahami pain point yang dirasakan oleh rekan-rekan yang ada di operation dan rekan-rekan yang ada di bisnis. Misalnya, mereka sudah ada inisiasi bisnis 2 tahun lalu tapi belum terealisasi sampai sekarang, padahal kalau pakai cloud asing, mungkin sudah jadi 1 tahun yang lalu dan sudah mendapatkan keuntungan. Kita tidak bisa langsung memberikan saran harus menggunakan ini, aspek bisnis juga harus dipertimbangkan. Saya kira hal tersebut bukan konteks yang kita bahas, konteks yang kita bahas berdasarkan pertanyaan tadi adalah bagaimana cloud lokal vs asing. Saya kira selalu ada jalan keluar, misalnya dengan melakukan scanning lebih lanjut siapa tahu ada vendor lokal yang mempunyai kemampuan lebih baik dibandingkan dengan cloud asing. Sebetulnya by the end masalah kita ada di SDMsehingga conductnya kurang dan membuat banyak pihak akhirnya memilih beralih ke cloud asing.
Tidak terlalu jauh berbeda dengan cara memastikan keamanan software proprietary, sedikit bedanya ada pada lebih banyak opsi yang dapat kita gunakan untuk meningkatkan pengamanan dan tingkat kebebasan yang lebih besar untuk melakukan pengamanan.
Untuk menjaga keamanan software Open Source, pastikan kita hanya menggunakan dari sumber resmi dan terpercaya. Sebelum dipakai, software sebaiknya ditinjau terlebih dahulu oleh tim expert security, atau bilamana tidak memilikinya dapat menggunakan pihak ketiga, atau meminta pertanggungjawaban vendor untuk melaksanakan hal tersebut karena latent security adalah tanggungjawab Principal, sementara operational security adalah tanggungjawab tim delivery dan operation (SI maupun tim Manage Service/support)
Hal yang tidak kalah pentingnya adalah apakah dalam kebijakan internal perusahaan sudah mengatur atau memiliki aturan maupun policy terkait security? Bilamana belum, apakah sudah melaksanakan compliance terhadap standarisasi terkait security seperti ISO, PCI-DSS, ataupun aturan yang diaturkan oleh regulator?
Ada banyak kebebasan untuk pengamanan sistem yang dapat diimplementasikan pada solusi berbasiskan Open Source, hanya terlihat terlalu banyak dan membingungkan sementara software proprietary hanya bisa dilaksanakan sesuai dengan aturan dari principal yang umumnya cukup terbatas namun tidak menyeluruh.
Strategi terbaik adalah fokus pada value perusahaan dan kedaulatan data, bukan hanya harga. Memahami tantangan apa yang dihadapi oleh pelaku pasar yang menggunakan solusi berbasiskan Open Source, seperti harus lebih keras berusaha dalam membuka market, mengembangkan ekosistem secara mandiri, melakukan edukasi masyarakat dalam tiga matra sekaligus: Akademisi, Bisnis dan Pemerintahan, mengembangkan jaringan yang lebih luas daripada produk proprietary, lebih jeli dalam mengembangkan model bisnis maupun perencanaannya, strategi marketing yang harus selalu diasah dan tentu saja tidak lupa memiliki persistensi, konsistensi maupun kecermatan secara terus menerus.
Edukasi pasar penting untuk dilakukan dengan cara seperti seminar, studi kasus, publikasi keberhasilan, dan demonstrasi produk (proof of concept/PoC). Selain itu, membangun kredibilitas melalui audit independen, sertifikasi, dan kolaborasi dengan lembaga pendidikan atau pemerintahan dapat memperkuat kepercayaan. Narasi pemasaran juga harus menonjolkan fleksibilitas, efisiensi total biaya kepemilikan (Total Cost of Ownership), serta kepastian dukungan lokal yang kuat.
Pertanyaan yang ditunggu-tunggu, sumber pendapatan yang paling realistis adalah Expert Support sebetulnya. Tidak hanya support seperti umumnya, namun sebuah orkestrasi tim yang beragam dari Tim Riset, Development, DevOps, Support, Security Expert, sampai dengan tim Operation and Project Management yang mumpuni. Hal ini terlihat sulit bagi orang awam, tapi ini lah yang sebenarnya harus dilakukan dan apa yang kami lakukan. Pemahaman sistem yang menyeluruh dari stack hardware sampai dengan proses bisnis menjadi keharusan untuk dikuasai. Contohnya, software Open Source Postgres, tentu akan memiliki dependency pada sistem operasi sampai dengan prosesor, tanpa penguasaan yang lengkap, maka tidak akan dapat memberikan solusi yang menyeluruh.
Namun, Expert Support ini sebetulnya bisa kita terjemahkan dalam bentuk penjualan lisensi, managed support, consulting, package sampai dengan cloud services. It depends on how we creatively craft our solution!
Kami adalah pengembang, pioneer dalam pengembangan solusi bisnis enterprise berbasiskan Open Source. Pertanyaan tersebut sebetulnya tidak relevan dengan kami, namun kami mencoba menjawab dengan mempertimbangkan obstacle yang kami sering hadapi dalam interaksi dengan masyarakat bisnis secara umumnya di Indonesia.
Mindset inferior adalah yang paling kental, rasa rendah diri dan juga sekaligus mudah sombong sering kali menjadi tabir yang membuat kita tertutup tidak dapat melihat kebenaran yang sudah diungkapkan. Kami sering kali menemui kesulitan akan sikap seseorang yang keras kepala terhadap solusi atau produk lokal, meskipun didepan mata sudah melihat dengan jelas adanya perubahan yang terjadi.
Adalah tidak mudah memahami kemajuan solusi yang dibuat dengan pertimbangan teknologi yang menyeluruh dari stack bawah sampai atas sehingga secara umumnya akan terasa sulit untuk dipahami oleh mereka yang tidak pernah belajar dengan baik akan stack teknologinya namun sudah terburu dianggap senior atau pintar sehingga malu untuk bertanya dengan kerendahan hati.