Di tengah derasnya inovasi teknologi, penting untuk memiliki konsultan yang berintegritas dan mempunyai kemampuan self-introspection. Perusahaan umumnya mengandalkan konsultan sebagai panduan dalam membuat strategi dan membantu memahami kompleksitas teknologi yang terus bermunculan. Namun, adanya kasus laporan yang tidak akuntabel menunjukkan bahwa tidak semua konsultan menjalankan perannya secara profesional. Oleh karena itu, integritas disertai kemampuan mawas diri menjadi fondasi penentu kualitas rekomendasi yang berdampak langsung pada arah bisnis sebuah perusahaan.
Seorang konsultan yang berintegritas menyusun laporan berdasarkan analisis yang kuat, dibangun dari data, fakta, dan pengetahuan yang relevan. Pengalaman profesional juga menjadi elemen penting agar rekomendasi yang diberikan tidak sekadar teori, tetapi dapat dieksekusi dengan baik. Konsultan diharapkan mampu menimbang konteks, memahami batasan serta memastikan setiap saran memiliki dasar yang dapat dipertanggungjawabkan.
Selain itu, kualitas konsultan juga dapat dilihat dari kemampuannya dalam mengoreksi diri dan menilai akurasi sebuah analisis sehingga dapat memberikan penilaian yang objektif. Dengan mawas diri, konsultan mampu menjaga integritas profesional sekaligus menghindari bias berlebihan dalam menyampaikan opini maupun rekomendasi.
Untuk memilih konsultan yang tepat, terdapat empat aspek penting yang perlu diperhatikan: (1) memiliki portofolio relevan yang terbukti, (2) tidak mendorong penggunaan teknologi atau produk secara bias, (3) mampu menjelaskan analisis secara elaboratif dan mudah dipahami, serta (4) menempatkan kepentingan klien sebagai prioritas utama. Dengan mempertimbangkan hal-hal tersebut, konsultan dapat menjadi mitra strategis yang membawa perusahaan menuju keputusan yang lebih matang, efektif, dan berkelanjutan.
Terkait waktu, terdapat beberapa hal yang diperhatikan, yaitu:
Fokus pada proses bisnis HR: Untuk modul HRM, permasalahan terbesarnya lebih pada proses bisnis HR, terutama terkait legalitas dan psikologi. Dari sisi sistem IT, tidak terlalu kompleks karena teknologinya cukup jelas dan mudah diakses melalui pencarian atau AI. Yang dibutuhkan adalah konsultan yang berpengalaman luas di dunia software development untuk memberikan saran tentang teknologi yang bisa digunakan. Jika konsultan terbiasa dengan SDLC (Software Development Life Cycle), ia juga akan bisa menjelaskan kebutuhan terkait Undang-Undang PDP. Lebih banyak dibutuhkan konsultasi di sisi proses (business process engineering) daripada teknologi.
Pengalaman Terbukti Mutlak. Jika seseorang tidak memiliki keahlian terbukti, ia belum pantas disebut konsultan. Portofolio pribadi mungkin belum ada, tetapi portofolio saat bekerja di perusahaan sebelumnya (sebagai principal consultant, bukan hanya asisten) bisa menjadi bukti pengalaman.
Pertanyaan ini mirip dilema ayam dan telur. Ada dua cara menjadi konsultan dengan pengalaman terbukti:
Pengalaman terbukti di dunia nyata adalah syarat utama, tidak bisa dipungkiri. Dunia nyata berbeda jauh dengan dunia laboratorium atau kampus. Ini membangun portofolio yang kuat dan membuat pernyataan konsultan menjadi lebih lugas karena didasarkan pada kenyataan yang pernah dihadapi.
Selain itu, ada faktor lain yaitu konsultan juga harus memiliki pengetahuan dan pengalaman berjenjang sampai ke layer bawah (contoh: konsultan fashion tidak hanya tahu mode, tapi juga teknologi kain, benang, penjahitan). Pengetahuan harus lebar dan dalam. Pengetahuan teoretis untuk layer di bawah masih dapat diterima, asalkan dipahami secara mendalam.