Equnix Weekly Tech Talk (EWTT) Episode #3 sukses digelar pada Rabu, 17 September 2025 secara hybrid—onsite di Kantor Equnix maupun live via YouTube dan Zoom. Fokus utama webinar yang dibawakan oleh Bapak Lucky Haryadi (CTO Equnix) ini membahas Strategi Pencegahan Kebocoran Data, Pelanggaran Privasi, dan Ransomware dengan 11DB/Postgres™. Lebih dari 70 peserta hadir menyimak dan aktif berdiskusi ditandai dengan 23 pertanyaan diajukan selama sesi berlangsung. Hal ini menunjukkan tingginya minat dan kebutuhan akan solusi keamanan data yang efektif.
Ancaman Multidimensi
Kebocoran data bukan sekadar insiden teknis, melainkan kegagalan melindungi keamanan di berbagai lapisan, mulai dari Hardware, Sistem Operasi, hingga di sisi pengguna. Penyebab utama kebocoran data dapat muncul dari internal fraud atau penyalahgunaan oleh pihak yang terhubung langsung dengan sistem, adanya unauthorized access, serta manipulasi melalui social engineering. Semua faktor tersebut berakar pada lemahnya penerapan prinsip 3T (Teknologi, Tata Kelola, dan Tata Laksana) dalam menjaga sistem.
Solusi Keamanan End-to-End
Sebagai solusi, 11DB/Postgres™ dirancang untuk menghadirkan proteksi menyeluruh dengan fitur keamanan berlapis yang terdiri dari tiga pilar utama:
2FA Connstring Token yang memastikan setiap koneksi ke database unik dan hanya bisa diakses dengan token valid berbasis aplikasi Caraka.
Kedua, EPL (Equnix Privilege Level) yang mengatur kontrol akses berjenjang dan hierarkis. Akses ke data terenkripsi diatur berdasarkan role, memastikan setiap individu hanya dapat melihat data sesuai batas wewenangnya.
Ketiga, Equnix Seamless Encryption (ESE) yang melindungi data secara end-to-end, baik saat at-rest, in transit, maupun in-use, didukung oleh AES-256 dan manajemen kunci berbasis HSM (Ksema).
Kombinasi 2FA Connstring Token + EPL + ESE menciptakan pertahanan berlapis yang mampu meminimalisasi risiko kebocoran data, pelanggaran privasi, dan serangan ransomware. Dengan pendekatan ini, pengelola sistem maupun bisnis dapat meraih peace of mind dalam mengelola transaksi kritikal mereka.
Bagi Anda yang belum sempat mengikuti sesi ini, tayangan lengkapnya dapat disaksikan melalui YouTube Channel Equnix Business Solutions.
Jika tidak memiliki Backup yang baik, maka bisa meminta bantuan professional untuk melaksanakan recovery, namun hal tersebut tidak menjamin, karena ada varian ransomware yang menggunakan enkripsi dengan algoritma yang cukup strong sehingga tidak mudah untuk dikembalikan tanpa mengetahui kunci sebenarnya.
Terkait mekanisme backup, tentunya harus direncanakan dengan sangat matang, contohnya tidak hanya menyimpan backup di 1 tempat saja, melainkan juga dapat memanfaatkan strategi air gap (backup ke storage yang terisolasi). Jika masih memiliki file backup yang sehat, maka dapat dengan mudah melakukan proses recovery.
Terkait solusi perlindungan tambahan, pada 11DB/Postgres™ terdapat fitur Equnix Seamless Encryption (ESE) dengan metode column-based encryption, serta dilengkapi juga dengan pengaturan akses yang baik melalui role based access control sehingga ini dapat memberikan keamanan database yang tangguh.
Terkait solusi hemat biaya, 11DB/Postgres™ merupakan solusi alternatif dengan performa dan security yang tinggi. Kami mengembangkan solusi berbasiskan Open Source dan riset untuk membantu korporasi di Indonesia dapat mencapai Kemandirian, Kemerdekaan, dan Kedaulatan. Dengan begitu, korporasi dapat terhindar dari vendor lock-in. Apakah UMKM dapat memanfaatkanya? Tentu saja, namun pertimbangan biaya dan tingkat layanan menjadi hal yang cukup krusial bagi UMKM, karena tingkat layanan yang mumpuni selaras dengan biaya yang dikeluarkan. Mungkin dengan menggunakan layanan berbasis Cloud dapat menjadi solusi yang baik bagi UMKM.
Dalam filosofi zero trust, semua titik dapat menjadi potensi breach, dan oleh karenanya harus dimitigasi, bukan berarti sudah terjadi breach. Justru adanya enkripsi ESE ini digunakan sebagai cara kita mengimplementasikan zero trust, untuk minimalisasi potensi breach atau data leak.
Mengenai penggunaan tooling seperti CARAKA atau fitur spesifik 11DB tidak ditujukan untuk triage, bilamana attacker sudah menguasai sistem, dengan cara tertentu atau karena adanya kesalahan disain akses, maka ESE hanya dapat berfungsi untuk mengamankan data fisik yang dienkripsi, setidaknya menghindarkan dari kebocoran data karena adanya pencurian storage secara fisik. Pada dasarnya Teknologi CARAKA maupun fitur 11DB sebenarnya tidak ditujukan untuk kegiatan after attack seperti triage.
Kemudian, apabila kondisinya sudah ada ransomware dan data di-encrypt, maka bisa mengambil data dari lokasi backup. Lalu, bagaimana cara memastikan backupnya. Backup yang kita terapkan harus menerapkan multi level backup (multi tier backup) mulai dari snapshot 11DB/Postgres™ nya, snapshot disini dapat dikatakan mengambil secara keseluruhan dari databasenya, dan adanya incremental backup untuk bisa me-recover sehingga Recovery Point Objective-nya itu bisa sedekat mungkin dari waktu kejadiannya. Kemudian backup ini jangan disimpan hanya dalam satu tempat saja, misalkan kita sudah memiliki satu server, kemudian backup-nya kita taruh di server yang sama, bahkan jika di dalam satu hardisk yang sama, itu akan sama saja. Jadi, kita akan lempar ke satu storage spesifik tertentu, dan dari satu server itu akan dilempar lagi ke tempat lain seperti storage server khusus untuk backup atau teknologi isolated zone, dimana backupnya akan ditarik ke tempat lain kemudian hanya diakses atau terkoneksi saat kondisi tertentu seperti saat akan melakukan recovery tersebut. Dalam 11DB/Postgres™ sudah mendukung fitur snapshot, archiving, dan dapat dilempar ke storage lain, dan bisa dilakukan recovery secara PITR (Point Time Recovery). Sebagai contoh, terjadi ransomware attack pada pukul 11:00, apakah kita masih punya data backup-nya di situ atau dari tempat lain yang sudah di produce oleh 11DB/Postgres™ yang selanjutnya kita ambil dan restore, recover atau reply kembali semua transactionnya. Kemudian backup yang kita lakukan itu benar benar bersih dan tidak terinfeksi dari sebelumnya, jadi jika memang databasenya benar-benar sudah ter-encrypt yang sudah tidak bisa dibuka atau diakses secara file sistemnya. Kita biasanya menerapkan hashing, backupnya di hash dan simpan informasi hashnya. Jika keduanya sama, maka betul. Jika tidak sama, mungkin ada alteration, kita akan recover datanya dan lakukan PITR, seharusnya jika hash-nya masih sama, maka saat di-copy atau backup, hasil hash–nya harus sama kembali. Karena backup is not a backup if it cannot be restored.
Akses langsung dari Sistem Operasi kedalam localhost Database, menjadi perhatian utama dalam security, karena bug atau zero day bug pada OS dapat muncul kapan saja, ada ribuan system call pada sistem operasi yang tidak mudah di awasi atau di mitigasi, bahkan oleh penyedia sistem operasi professional sekalipun. Dalam catatan sejarah ada saja lubang keamanan yang dapat dimanfaatkan oleh tindakan illegal untuk mendapatkan akses superuser sistem operasi (root-kit). Sehingga mitigasi terbaik saat ini adalah minimalisasi akses konsol terhadap host dimana database berada.
Superuser bukanlah user, melainkan tools yang kita pergunakan dalam kondisi sangat khusus, tidak boleh dipergunakan untuk kegiatan sehari-hari.
Super User hanya boleh dipegang oleh satu entitas, tidak boleh disebar ke orang secara sembarangan, dan perlu diintervensi dengan menggunakan MFA. Super User juga hanya digunakan untuk kegiatan dengan concern tinggi, seperti server side tuning, configuration, ataupun modification.
Seperti di 11DB/Postgres™, database ini juga tidak boleh diakses oleh Super User langsung melalui remote (CLI) dan perlu menggunakan Caraka sebagai MFA dan satu kesatuan gerbang untuk mengakses dashboard. Pengaturan autentikasi ini sangat penting dalam keamanan akses karena autentikasi ini melibatkan verifikasi user, verifikasi hak user, dan tracking ataupun audit kegiatan yang dilakukan oleh setiap user.
Terkait performance tuning, ini perlu dibahas di topik khusus agar penjelasannya dapat diberikan secara komprehensif. Namun, secara singkat, beberapa upaya performance tuning dapat dilakukan melalui normalisasi data, melakukan query dengan efektif, dan penerapan indeks.
Jika ingin benar-benar aman, pasti ada sedikit hal yang harus dikorbankan, seperti performa. Enkripsi pada 11DB/Postgres™ tetap menghasilkan CPU overhead, tetapi kami tekan hingga <2% agar tidak terlalu tinggi, melalui beberapa cara, yaitu:
Selain dengan cara tersebut, kita juga dapat melakukan normalisasi data dengan memisahkan tabel berisi data yang sering di-update dan data yang jarang di-update (data terenkripsi).